Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

perilaku aneh pada periode klimakterium

ASPEK MENTAL DAN PERILAKU PADA KLIMAKTERIUM


Hurlock (1980) membagi tahap perkembangan kehidupan manusia menjadi prenatal, masa bayi baru lahir, masa bayi, awal masa anak, akhir masa anak, masa pubertas,, masa remaja, masa dewasa dini, masa dewasa madya, dan masa dewasa lanjut atau lansia. Masa dewasa dini dimulai umur 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun, saat mulai perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. Masa dewasa madya dimulai umur 40 tahun sampai 60 tahun, yakni saat menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas pada setiap orang, dan masa dewasa lanjut yang dimulai usia 60 tahun sampai kematian.

Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia dewasa madya ( masa paruh baya/ half life period) mempunyai karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda yaitu :
1. Masa yang “ditakuti” karena pada masa ini terjadi klimakterium pada wanita maupun pria, menurunnya kemampuan seksual, berbagai mithos berhentinya produksi, kerusakan mental, dll.
2. Masa transisi : pria mengalami perubahan keperkasaan dan wanita perubahan kesuburan, dari cirri-ciri dan perilaku dewasa ke lansia.
3. Masa stress : penyesuaian radikal terhadap peran dan pola hidup yang berubah, disetai berbagai perubahan fisik. Stres somatik, stress budaya, stress ekonomi, dan stress psikologik.
4. Masa “berbahaya” : orang berusia madya berusaha mencari kegiatan atau pengalaman baru, missal hubungan ekstramarital, penggunaan zat adiktif, kekerasan mumpung belum tua.
5. Masa berprestasi : menurut erikson, selama usia madya orang akan lebih sukses sampai ke puncak prestasi hidupnya, atau sebaliknya akan berheti dan tidak mengerjakan sesuatu apapun lagi.
6. Masa evaluasi : karena sampai masa puncak prestasinya, orang mengevaluasi diri apakah sesuai dengan cita-citanya atu harapan orang lain terhadapnya.
7. Masa sepi (sindrom kehampaan, emptiness syndrome) : dengan keluarnya anak terakhir di rumah, orang merasa sepi dan hampa. Juga orang dalam kesibukan penuh di puncak prestasinya, sering mengalami kesepian dan kehampaan.
8. Masa jenuh : pada usia 40 an pria merasa jenuh degan pekerjaan rutin dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan. Wanita juga jenuh dengan kesibukan memelihara keluarga dan membesarkan anak-anaknya.

Suatu periode penting yang terjadi pada masa dewasa madya ini adalah periode klimakterium, yang terjadi pada pria maupun wanita (menopause).


PERIONE KLIMAKTERIUM PADA WANITA (MENOPAUSE)

Setelah mengalami menstruasi sejak usia pubertas dan berlangsung terus selama masa subur (produktif), wanita akan sampai pada penurunan fungsi hormonal yang mengakibatkan menurun dan berhentinya menstruasi. Dengan berakhirnya haid, proses ovulasi dan pembuahan sel telur juga berhenti. Segenap aparat kelenjar mengalami hambatan pengurangan aktivitasnya. Organ kelamin turut mengalami proses atrofi, menjadi kisut dan mundur fungsinya. Akhirnya, segenap bagian tubuh lambat laun menampakkan gejala ketuaan. Fese demikian ini pada wanita disebut menopause (men = bulan, pause = berhenti).

Fase menopause disebut pula sebagai periode klimakterium (climacter = tahun perubahan/pergantian tahun yang berbahaya). Menopause merupakan peristiwa fisiologis alamiah. Terjadi setelah berhentinya menstruasi selama 1 tahun. Biasanya, menstruasi mulai berkurang (taper off) selama 2-5 tahun, paling sering antara umur 48 – 55 tahun, rata-rata pada umur 51,4 tahun. Kaplan & Sadock (1991) menyebutkan berbagai gejala psikologis menopause, seperti kecemasan (anxietas), lemah (fatique),ketegangan, labilitas emosional, iritabilitas, depresi, pusing-pusing, dan sukar tidur (insomnia).Tanda dan gejala fisik adalah berkeringatan malam hari (night sweats), flushes dan hot flashes. Yaitu persepsi mendadak rasa panas di leher dan tubuh yang disertai keringatan atau perubahan warna kulit kemerahan. Penyebab dari hot flashes ini kemungkinan karena menurunnya sekresi luteinizing hormone (LH).

Menopaus secara alamiah terjadi karena menurunnya sekresi hormone kewanitaan, terutama hormon oestrogen. Penurunan ini menyebabkan atrofi (pengisutan) dan pengeringan mukosa vagina, sehingga sering terjadi vaginitis (radang vagina), pruritus (gatal-galat), dispareuni (nyeri waktu hubungan seksual), dan stenosis. Perubahan-perubahan system hormonal ini mempengaruhi segenap konstitusi psiko-fisiologik sehingga berlangsung proses kemunduruan yang progresif. Karena itu periode klimakterium atau menopause disebut “periode krisis” karena perubahan dan kemunduran yang terjadi mengakibatkan krisis-krisis dal kehidupan psikis pribadi seseorang.

Menurut Helena (1973), klimakterium ini diawali dengan satu fase pendahuluan atau fase preliminer yang menandai satu proses “pengahiran”. Munculah tanda-tanda abtara lain :
1. Menstruasi menjadi tidak lancer atau tidak teratur, datang dalam interval waktu yang lebih lambat atau lebih awal.
2. Haid yang keluar banyak sekali, atau malah sedikit sekali.
3. Muncul gangguan vasotoris berupa penyempitan atau pelebaran pembuluh darah.
4. Merasa pusing-pusing, sakit kepala terus menerus.
5. Berkeringat terus-terusan.
6. Neuralgia atau nyeri syaraf terus-terusan.

Semua gejala ini adalah fenomena klimakteris, akibat perubahan fungsi kelenjar hormonal. Terjadi pula erosi kehidupan spikis, sehingga terjadilah krisis yang terwujud dalam gejala-gejala psikologis seperti : depresi (kemurungan), mudah tersinggung dan meledak marah, banyak kecemasan, sulit tidur, sukar tidur karena bingung dan gelisah. Gejala-gejala ini dapat dianggap sebagai “jeritan minta tolong” agar wanita tersebut masih diperbolehkan meneruskan aktivitasnya.

Klimakterium dapat dibagi menjdi dua tahap, yaitu :
1. Tahun-tahun dimana menstruasi sudah tidak teratur, sering terganggu, atau terhenti sama sekali , namun organ endrokrin seksual masih terus berfungsi.
2. Tahap kedua adalah berhentinya secara definitif organ pembentuk sel telur. Berhentinya lembaga kehidupan.

Tahap pertama disebut masa pra-klimakteris, biasanya dibarengi aktivitas-aktivitas pra-klimakteris. Ditandai dengan gejala meningkatnya nafsu hubungan sesual. Sekaligus muncul kegairahan berjuang yang menyala-nyala seperti dimasa puber. Karena itu dimasa ini sering timbul tingkah laku yang aneh-aneh, atau tidak sesuai dengan atribut ketuaan. Masa pra-klimakteris ini mirip sekali dengan masa pubertas, karena itu disebut pubertas kedua. Sedang periode klimakterium sendiri banyak kemiripannya dengan periode pubertas . Tingkah laku orang pada periode ini sering lucu, aneh-aneh, janggal atau tidak pada tempatnya. Misalnya wanita kaya dan gemuk memakai rok mini atau rok panjang merah belah pinggir tinggi. Tingkah laku yang ”berlebihan” tersebut bermaksud untuk :
1) Mengingkari ketuaannya dan ingin mengulangi kembali pola kebiasaan di masa muda.
2) Menimbuni dirinya dengan pakaian dan perhiasan warna-warni serta macam-macam bahan kosmetik, agar kelihatan masih ”remaja”.

Kemunduran aktivitas organ endrokrin menyebabkan lapisan lemak dibawah kulit jadi menebal, kulit kehilangan gaya regangnya jadi mengeriput. Tidak hanya pada segi jasmani saja terjadi kemunduran, tapi juga fungsi-fungsi psikis dan kepribadian, seperti daya pikir, daya ingat, vitalitas, pendengaran, penglihatan, toleransi terhadap stres, dll.
BEBERAPA GANGGUAN PADA PERIODE KLIMAKTERIUM

Seperti juga pada usia pubertas , pada periode klimakterium ini sering terjadi gangguan lambung dan alat pencernaan, kepekaan kelenjar gondok (hyperthyroidisme), gangguan pigmentasi kulit, gangguan penyempitan/ pelebaran pembuluh darah, dermatis (eksim),dll.

Stressor psikososial yang dialami wanita masa ini :
• Takut kehilangan fungsi dan ekssistensi sebagai wanita
• Kehilangan gairah dan menurunnya fungsi seksual
• Takut tidak bisa memuaskan atau melayani suami
• Takut kehilangan kasih sayang atau suami mencari wanita lain
• Kehilangan kepercayaan diri dan rendah diri
• Tidakbisa tampil baik mendampingi suami yang meningkat kariernya
• Minder ketemu orang, cenderung ingin dirumah saja
• Ingin mengingkari dan memprotes proses biologis yang mengarah pada ketuaan
• Terlampau mendramatisir proses ketuaan
• Merasa hidupnya kini tak mengandung harapan dan dilupakan orang
• Kemunduran biologis dirasakan sebagai mendekatnya kematian, sehingga tak ada gunanya lagi terus hidup

Stressor yang bersifat ”kehilangan” dan ”tidak berguna lagi” akan menimbulkan gangguan depresi, yang bisa bertaraf sedang sampai berat dengan gejala : murung atau sedih berkepanjangan, merasa hancur, putus asa, tak bergairah, merasa tidak tertolong lagi, nihilistik, lungrah/berat di pagi hari, nafsu makan kurang, terbangun 2 jam lebih awal tak bisa tidur lagi, rendah diri dan menarik diri, tak bisa menikmati hidup (anhedonia), tak bergairah hidup, mudah curiga dan mudah tersinggung.

Stressor ini bisa dipersepsi pula sebagai ”akan hilang” atau ”takut kehilangan” dan ini akan menimbulkan anxietas, atau gangguan cemas menyeluruh, yang ditandai dengan gejala-gejala was-was terus akan terjadi musibah, tegang, berdebar-debar, berkeringat banyak, tangan kaki dingin-dingin, mual-mual, kerongkongan seperti tersumbat, gemetaran, lemas, selalu ingin kencing, sakit perut terus-terusan, sulit tidur dan mimpi-mimpi buruk. Depresi dan kecemasan ini bisa berlangsung berbulan-bulan, dan akan bisa mereda sendiri bila individu telah mencapai taraf adaptasi baru, yaitu sebagai wanita yang telah menopause.

Jika pada usia pubertas sudah pernah muncul predisposisipsikosomatik, gangguan kepribadian dan nafsu petualangan, atau kecenderungan histeris, maka pada usia klimakteris ini predisposisi itu dapat muncul kembali. Biasanya dalam bentuk ide-ide delirius (tidak realistis). Ada kalanya juga timbul semacam kegairahan seksual yang luar biasa. Banyak wanita yang dulu selama periode produktif dingin secara seksual, pada masa klimakteris malah menjadi mengebu-gebu. Tapi ada pula wanita yang selama periode produktif memiliki seksualitas yang normal, pada usia klimakteris mengaji dingin –beku secara seksual.

Semua gejala yang mengganggu itu pada umumnya diiringi suasana hati yang cepat berubah-ubah. Ia menjadi sangat sulit, banyak menuntut, rewel, gelisah, cerewet, jorok, tidak bertanggung jawab, egosentris, arogan, dan menjadi beban sosial di sekelilingnya. Hubungan sosial wanita-wanita klimakteris seringkali juga mengalami perubahan. Persahabatan yang dulunya harmonis, menjadi retak berantakan oleh rasa iri hati, cemburu, ketakutan-ketakutan atau panik tanpa sebab yang jelas. Wanita-wanita itu suka mencari setori, menggugah pertengkaran dimana-mana sehingga relasi sosial menjadi patologik sifatnya. Ada kalanya terjadi ledakan-ledakan emosional yang paranoid sifatnya, sebagai produk dari semakin intensifnya konflik-konflik intrapsikis pada periode klimakterium.

Muncul pendapat bahwa sekalipun proses strerilitas pada masa klimakteris sudah berlangsung, rupanya wanita tersebut dengan gigih ingin mempertahankan kapasitas reproduksi dan ”kemudaannya”. Mose-mode terbaru , alat kosmetik dan bedah plastik yang mahal serta kekayaan nempaknya banyak mendorong wanita-wanita setengah tua ini bertingkah laku seperti seperti anak puber. Delusi-diri ( citra diri yang distortif) yang narsistis seakan-akan ingin menampilkan ”keremajaan diri”nya. Sikap memberontak terhadap proses ketuaan membuat diri menjadi naif dan lupa daratan.

Pada masa klimakterium, tendensi-tendensi feminitas yang selama ini ditekan kuat, mulai menampilkan ”haknya”. Terjadilah konflik batin antara tendensi feminitas melawan kecenderungan maskulinitas. Jika pertentangan ini semasa kehidupan purbertas dan produktif tersublimasikan dengan baik, pada masa klimakterium sering gagal. Wanita tersebut sering sakit-sakitan karena berkurangnya daya tahan terhadap konflik, sedang katahanan fisik dan psikis menurun.


PERIODE KLIMAKTERIUM PADA PRIA

Pada pria periode ini adalah masa transisi dari dewasa ke tua dimana produksi hormon testoterum mulai menurun, tetapi sulit untuk memperkirakan secara tepat kapan sebenarnnya produksinya benar-benar telah mulai menurun. Menurut Bowskill & Linacre (1978) yang dimaksud dengan klimakterium adalah masa dimana gejala-gejala klimakterium terjadi dan juga dimana terjadi perubahan penyesuaian intelektual dan emosional dari maturitas ke usia lanjut. Pada banyak pria mulai ada reaksi neurotik seperti impotensi dan gangguan subyektif yang semuanya tidak bisa diobati dengan androgen.

Kebanyakan pria menjali masa transisi ini tidak karena kekurangan hormon, perubahan yang utama adalah pengaruh kebiasaan berpikirnya yaitu khawatir tentang ambisi yang tidak bisa dicapainya, khawatir tentang hasrat seksualnya yang menurun dan khawatir tentang istri mereka yang menopause. Menurut Hurlock (1980) masa ini adalah masa transisi, masa penyesuaian kembali, masa equilibrium-disequilibrium. Masa yang ditakuti karena mendekati masa tua. Nama untuk masa ini cukup banyak, antara lain usia pertengahan, paruh baya, dewasa madya, male-menopause, tahap varilitas, dan menut istilah awam masa ”puber kedua” atau ”remaja ke dua”.

Batasan umur masa ini juga bervariasi antara 40 -65 tahun, atau menurut Montgomery masa ini terjadi pada usia sekitar 55 – 65 tahun, jarang pada usia yang lebih muda. Sedang menurut Rumke kurang lebih berkisar antara 40 – 55 tahun. Pada hakekatnya periode ini merupakan masa krisis kejiwaan yang disebabkan adanya peralihan dari periode dewasa yang penuh kemantapan (dalam pekerjaan, kedudukan, kesehatan, ekonomi, kehidupan keluarga) ke periode tua yang serba tidak jelas, meragukan, dan kadang mengerikan (menghadapi pensiun, anak-anak mulai dewasa dan meninggalkan orang tua, mulai sakit-sakitan, dsb).

Gejala-gejala yang mungkin terjadi pada pria dalam masa ini :
1. Vasomotor : hot flushes, kedingan , berkeringat, berdebar-debar, denyut nadi bertambah, nyeri kepala.
2. Psikis : gelisah, mudah marah, insomnia, depresi, rendah diri, tendensi antisosial, mudah menangis, keinginan bunuh diri, anorexia.
3. Konstitusi : lekas capai, nyeri otot, kejang otot, arthralgia, mual muntah, nyeri perut, konstipasi, berat badan menurun.
4. Saluran kencing : kekuatan dan besar pancaran berkurang.
5. Seksual : berkurang libido.

Gejala-gejala yang sering terjadi adalah depresi, impotensi dan libido menurun. Sebagai akibat dari penolakan masa tua ini, mungkin mereka akan malakuakan perbuatan/perilaku antara lain :

• Menjadi lebih senang berdandan (pesolek, mematut-matut diri)
• Suka mengagumi diri sendiri
• Minta banyak perhatian dan dukungan orang-orang sekitarnya
• Ingin membuktikan kejantananya (pada wanita-wanita lain)

PENATALAKSANAAN DISTREESS MENOPAUSE
Psikoterapi individual dan terapi kelompok

Psikoterapi individual analistis-supportif dikerjakan supaya wanita bisa mengeluarkan seluruh konflik-konfliknya di masa krisis menopause, untuk meredakan ketegangan-kecemasan, bisa memandang problem-problemnya sendiri, dan bisa menerima keadaan alamiahnya. Terapi kolompok dilaksanakan dimana sekelompok wanita dengan problem yang sama bisa saling berdiskusi dan berbagi rasa, dipandu oleh seorang terapis (psikolog/psikiater).

Tujuan utama penatalaksanaan ini pada prinsipnya \, adalah :
• Upaya regisnasi, yang berarti sumeleh, pasrah, sumarah, tawakal, yang merupakan cara menghadapi krisis klimakterium tanpa proses dan kecemasan/ketegangan.
• Upaya penyadaran untuk mau dan mampu menerima kondisi alamiah menopause sebagai hal yang harus dialami setiap insan wanita
• Supaya wanita bisa melihat segi-segi positif kehidupannya, dan mengapresiasi nilai-nilai positif pengalaman hidupnya sampai saat itu.
• Meningkatkan maturitas (kematangan) kepribadian, untuk mampu mengendalikan diri, mampu mengatasi gangguan-gangguan fisik dan psikis yang muncul dengan menyalurkan keresahan batin pada tidakan-tindakan intelektual produktif dan kreatif,

Terapi organobiologik-medikamentosa

Bila diperlukan untuk menetralisir depresi dan kecemasan secara cepat, obat-obat psikotropik antridepresan dan anti cemas (anxiolitik) bisa diberikan dalam 2 minggu sampai 3 bulan, dengan dosis semakin diturunkan. Diharapkan setelah itu wanita bisa bereaksi secara normal dalam kehidupan keseharian dan menjalani masa klimakteriumnya secara wajar dan nyaman.

Terapi hormonal bisa diberikan oleh dokter spesialis kandungan/ kebidanan, berupa Oestrogen Cream untuk membasahi mukosa vagina yang kering sehingga tidak nyeri dalam hubungan seksual, bisa pula diberikan hormon stimulan.

Mencegah Distress Menopause secara pribadi dalam keluarga

1. Menyadari sepenuhnya dan bisa menerima dengan ikhlas menopause/klimakterium sebagai hal alamiah yang harus dialami setiap manusia.
2. Penyesuaian diri yang sebaik-baiknya masa klimakterium dan masa mulai tua.
3. Dialog penuh pengertian suami- istri tentang masa klimakterium dan masa tua sehat lahir – batin.
4. Mempertahankan tetap berlangsungnya hubungan suami istri sesuai usia agar tetap harmonis.
5. Menjaga kesehatan, kondisi fisik yang prima sesuai usia, senam kebugaran, olah raga untuk dewasa madya dan lansia.
6. Menyalurkan konflik intrapsikis dalam berbagai kegiatan sosial dan intelektual, aktif dalam organisasi sosial, terjun dibidang politik, dll.
7. Menyadari sudah bebas dari kehamilan dan mengasuh balita, bisa menggali kembali interest dan bakat artistik di masa muda, seperti melukis, foto grafi, menulis cerpen/novel/puisi, main musik, paduan suara, desain dan menjahit, ketering/masak-memasak/, home handicraft, membaca buku filsafat/ kebudayaan,keagamaan.
8. Karena Freud memandang pubertassebagai ”edisi ketiga dari periode infantil”, maka pada masa ini hubungan keakraban dengan anak-anak yang sudah dewasa ditingkatkan dan kelahiran cucu-cucu disambut dengan penuh kegembiraan.
9. Menjaga perawatan diri supaya meski mulai menua tetap tampil anggun dan cantik untuk menjaga kepercayaan diri.
10. Penghayatan keagamaan dengan kepasrahan diri pada Tuhan, atau dengan falsafah jawa : rilo, sabar, narima, andhap-asor, dan prasaja untuk menghilangkan depresi karena menopause/klimakterium.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar